noktah.

si antagonis dan protagonis bersama pergi
-
-
-
-
-
-
-
-
tiada plot untuk hari ini.

masih.

malam ini
ku kuburkan jasadku di satu ruang
dipetik besi merdu satu persatu
gesek gesek menembus gegendang telinga
biar tuli biar buta
logika yang ada telah menyirna

carutan padu dilontar
melodi dan lirik terus berseteru
seolah-olah berkonspirasi
cerita yang dilukis berselerak di satu sudut
abstraknya masih berselirat
konkritnya masih yang asal
kesudahannya hanya sebuah gitar buruk
dan sehelai kertas berconteng nota

sang jasad masih dan masih terus mencari idea

sekali lagi.

satu dua tiga tekan-tekan
rupa sama ekspresi serupa
terus aku menderu laju

haish kuala lumpur
pusing-pusing situ juga
downtown or uptown?
kiri atau kanan?
tengok pondan, layan malam?
bagi keputusan wahai teman

siang aku terbang
malam terus tenggelam
diskripsi kosong kian melolong
ini satu dominasi
ke mana kita malam ini?
malaikat kata syurga
syaitan kata neraka
aku pilih yang di tengah
lihat waris adam itu dari jauh
aku tahu kamu tahu
mata tak pandai bohong

sekali lagi aku terus sesat di bumi kuala lumpur

hari ketiga.

ke kiri ke kanan,
masih kosong,
dia berhenti berpusing,
di intai kotak hitam itu,
lagi suku sebelum setengah,
terima kasih suria jahat,
sebab hidupkan aku dari mati yang seketika.

yesterday.

surrounding was sorrow,
empty heart with the shallow mind,
stood in the middle of deception,
hoping for a miracle,
as she never tried to be.

the rain drizzles,
the atmosphere was much more different,
i wish the time will froze,
yet forever will never enough.

declaration of single breath,
distort the blank sight,
and i lost track of where i am.

bom kecil.

saat-saat begini,
kau muncul menambah gundah,
kau hadir menolak tuah.

tunggu masa untuk meletup,
memuntah segala isi putih,
meninggalkan kesan si parut hodoh.

haruskah kau tumbuh di tapakku?
mangajak teman-teman,
berasmara dan menambah.

bukankah kau punya jangka masa?
kau patut muncul di saat diri sedang kotor,
kau harus meletup ketika diri sedang berdarah,
kau memang sial.